PostHeaderIcon Pre-Birthday

Wawawaw.. Sudah bulan Desember ternyata. Artinya, umur blog ini sudah 1 bulan. Selain itu, desember berarti 1 bulan sebelum 2 orang penting di hidup saya -ayah dan adik- berulang tahun.

Karena kemarin saya baru dapat buku gratis berkat ‘nampang’ di Karnaval Blog punya oom Guskar, saya jadi terpikir untuk berbagi 7 buku untuk 7 orang yang beruntung. Detailsnya? Tunggu pengumuman selanjutnya dari saya :D

PostHeaderIcon Karnaval Blog dan Microsoft Bloggership 2010

Pagi ini saya terkejut. Saya seriuuus. Penyebabnya karena dapat email dari Oom Guskar yang memberitahukan bahwa tulisan saya terpilih dalam karnaval blog yang tayang tanggal 15/12. Tulisan saya kemarin, entah bagaimana, lolos dipamerkan di blog Oom Guskar. Padahal menurut saya, ratusan tulisan lain yang masuk juga sangat inspiratif. Tulisan saya pun akhirnya ‘nampang’ di sini. Sebagai gantinya, saya berhak memilih satu buku yang telah disediakan. Horeeee :D

Ngomong-ngomong tentang tulis-menulis, saya baru saja menulis untuk lomba yang lain. Kali ini, tulisan itu saya ‘pajang’ di blog saya yang lain. Tulisan tersebut saya buat untuk Microsoft Bloggership 2010. Sebuah ajang kompetisi dan penghargaan bagi narablog muda Indonesia. Program Microsoft Bloggership ini akan berlangsung dalam kurun waktu 6 bulan (Januari-Juni 2010). Narablog muda penerima BLOGGERSHIP ini kemudian akan mendapatkan kesempatan untuk menulis blog dalam perjalanan bersama Microsoft Indonesia ke beberapa provinsi di Indonesia, seraya dihadapkan dengan isu-isu dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan edukasi dan pemanfaatan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan kreatif. Jadi, saudara-saudara.. mampir ke tulisan saya, beri feedback dan dukungan untuk saya yaa. Matur nuwun :)

 

Btw, nama belakang Oom Guskar ternyata seperti nama Ayah saya :D

PostHeaderIcon MICROSOFT BLOGGERSHIP 2010 : Jelas Berbeda di Desa

Foto-foto ini diambil saat saya dan teman-teman kuliah di T.Informatika ITS Surabaya mengadakan satu kegiatan yang diberi nama ‘TC Goes To Village‘. Pencarian data ‘buta huruf terbanyak’ di Badan Pusat Statistik (BPS) mengantarkan kami ke suatu desa di Pasuruan, Jawa Timur. Asumsi kami, desa dengan tingkat buta huruf terbanyak merupakan desa yang memiliki tingkat pendidikan rendah.

Miris. Iya. Miris. Di saat kami -yang notabene mahasiswa IT- sudah sangat akrab dengan internet, messenger, virtual class, SIM Akademik online, forum diskusi online dan lain-lain, mereka di sana justru belum pernah ‘berkenalan’ dengan komputer dan laptop. Keadaan jelas berbeda di desa tersebut.

Mayoritas penduduk di desa tersebut mendapatkan sumber penghasilan dari aktifitas dagang. Kegiatan kami di sana akan berbagi pengetahuan tentang pengenalan dasar komputer, dan aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan di sekolah untuk menunjang proses belajar-mengajar seperti aplikasi-aplikasi MS Office. Di luar dugaan, berita tersebut ternyata telah didengar oleh penduduk desa. Saat kami datang saja, penduduk-penduduk yang menemui kami tampak sangat antusias bertanya-tanya tentang materi yang akan kami ajarkan esok hari. Kami mengambil lokasi pengajaran di salah satu sekolah di desa tersebut. Target peserta yang akan mengikuti acara ini adalah murid-murid MTs dari kelas 7 s.d. kelas 9. Selain itu pula, guru dan perangkat desa juga mengikuti acara ini.

Saya, teman-teman saya, blogger, dan bahkan Anda… saya yakin dengan gampangnya mengakses internet, blogwalking bahkan dari teknologi mobile. Akun FS saja pasti sudah dimiliki sejak bertahun lalu. Buat saya juga sudah bukan hal yang aneh jika kami -mahasiswa T.Informatika ITS Surabaya- berinteraksi dengan dosen tentang mata kuliah melalui forum, atau bahkan mengetahui info-info dari FB dan Twitter. Juga tak asing lagi saat kami harus melakukan conference untuk suatu mata kuliah dan ujian secara online. Tapi hal tersebut tidak berlaku di sana. Jangankan mobile atau social network, untuk menyalakan komputer saja, mereka masih belum bisa. Eits, saya serius dan tidak mengada-ada. Karena nyatanya, cita-cita pemerataan pendidikan dan teknologi informasi di negara kita masih belum menyentuh mereka yang berada di desa kecil.

Para peserta sangat antusias mengikuti tiap sesinya dengan penuh perhatian seolah tak ingin melewatkan tiap butir pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Duduk di lantai tanpa alas pun tidak masalah. Tidak sebanding dengan ilmu yang akan mereka terima.

Tak hanya pengenalan komputer, kami pun memberikan materi aplikasi perkantoran dasar dari Microsoft yaitu MS Word dan MS Powerpoint. Di ruangan berbeda, materi tersebut tidak diberikan dengan menggunakan komputer, melainkan laptop/notebook. Peserta yang terdiri dari murid-murid SMP tersebut rupanya memicu rasa ketertarikan bocah SD di desa tersebut. Mereka ingin sekali merasakan pengalaman mengoperasikan komputer/laptop juga membuat presentasi. Tak tega melihat semangat dan rasa penasaran mereka, kami pun mengijinkan mereka masuk dan bergabung bersama kakak-kakak mereka yang sudah duduk di bangku SMP dengan catatan bersedia untuk rapi dan tidak gaduh.

Mengenal notebook pada awalnya membuat mereka di sana ragu. Namun, perlahan mereka menikmati materi dan dengan asiknya mencoba membuat presentasi menggunakan aplikasi MS Powerpoint. Dimulai dengan membuat desain tiap slide yang ada, kemudian menambahkan animasi-animasi, dan menjalankan presentasi yang telah dibuat. Senyum dan tawa riang menyiratkan betapa menyenangkannya hal-hal baru tentang komputer dan teknologi informasi untuk mereka. Belajar secara sederhana dengan presentasi powerpoint saja sudah memberikan suasana yang jauh berbeda. Lebih hidup, dinamis, dan bersemangat.

Tiga hari di sana sebenarnya belum cukup untuk membagikan lebih banyak ilmu. Sebelum pulang, kami memberikan beberapa perangkat komputer yang dapat digunakan untuk menunjang proses belajar-mengajar di sana. Keberadaan kami di sana hanyalah awal, sebuah investasi kecil yang jika dipupuk akan berbunga indah. Siapa tahu saja dua puluh lima tahun ke depan, justru anak-anak desa yang awalnya ‘gaptek’ ini lah yang akan menjadi Menkominfo Indonesia :)

rindu senyuman lugu mereka :)

Sekecil apa pun, sesederhana apa pun, bentuk kepedulian kita untuk menyampaikan kemajuan teknologi informasi kepada masyarakat dapat menciptakan kualitas pendidikan yang lebih baik. Terlebih lagi, jika kita bekerja sama menyebarkan pengetahuan sampai ke pelosok desa, kita bisa membantu pemerintah untuk perataan pendidikan dan cita-cita bangsa bagian ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ seperti tercantum pada alinea empat pembukaan UUD 1945 pun dapat tercapai. Salah satu bentuk yang dapat dilakukan yaitu dengan program MICROSOFT BLOGGERSHIP yang memberikan kesempatan kepada narablog muda untuk berkontribusi di masyarakat dalam bidang pendidikan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan kreatif. Pendidikan merupakan tanggung jawab kita semua… Bukan begitu, saudara-saudara? :D

PostHeaderIcon Kalau Nanti Jadi Ibu

“Kamu sekarang bisa ketawa, coba kalau nanti sudah jadi Ibu.”

Saya seketika berhenti tertawa. Ibu saya iniii… Paling tahu bagaimana cara memberhentikan tawa saya dan membuat saya berpikir. Saya serius. Seketika itu saya memikirkan kata-kata Ibu.

Kalau nanti jadi Ibu, apa iya saya jadi seperti Ibu yang….. Read the rest of this entry »

PostHeaderIcon Siapa Bilang Orang Tua Berhenti Belajar?

Saat istirahat makan siang di kantor, saya mendapat telfon dari sebuah nomor tak dikenal. Baru setelah berbincang sebentar, saya jadi ingat suara di seberang telfon itu. Menyapa saya dengan, ‘Mbak Sari, masih ingat saya? Saya Rizki, Mbak.. Mahasiswa PIKTI.’

Ooooh.. Saya hanya menjawab dengan ‘O’ panjang sebelum perbincangan singkat pun mengalir. Saya dan Pak Rizki berkenalan tahun lalu. Saat saya menjadi asisten dosen mata kuliah Software Perkantoran di sebuah lembaga pendidikan profesi. Berbeda dengan hari biasa, Senin-Jumat, hari Sabtu merupakan hari untuk kelas ekskutif. Awal bergabung di sana sebenarnya cukup membuat saya syok. Karena bukan anak-anak seusia saya yang ada di sana, melainkan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sepertinya berusia sepuluh tahun lebih tua daripada saya.

Saya pun sadar, dan membenarkan kalimat, ‘Tak ada kata terlambat untuk belajar.’ Pun dalam prosesnya, semakin banyak tantangan yang harus dihadapi. Para tenaga ajar yang terlibat di dalamnya pun harus memiliki tingkat ketelatenan dan kesabaran yang ekstra. Misalnya saja untuk mata kuliah tersebut (Software Perkantoran), kesalahan dan pertanyaan yang diungkapkan oleh peserta ajar sangat sederhana. Kurang tanda titik, lupa menyimpan dokumen yang telah dibuat, atau lamanya waktu untuk dapat menyelesaikan satu dokumen tugas. Namun, di situ lah para pengajar harus telaten untuk memberikan pengajaran.
Saya masih ingat dulu, setelah break istirahat siang kelas eksekutif dan berbincang santai dengan para murid di sana, hampir semua bapak dan ibu yang ada mengeluh karena pelajaran yang diberikan sangat susah. Saya pikir, mereka akan menyerah. Namun, nyatanya.. Semangat untuk tak henti belajar membuat mereka datang kembali di minggu depan.

Back to the topic. Telfon Pak Rizki tadi siang hanya ingin sekedar menyapa, memberitahukan nomor barunya, sekaligus pamit. Pak Rizki yang menurut cerita beliau telah mahir menggunakan software perkantoran akhirnya naik pangkat, dan dipindahtugaskan ke Semarang. Saya jadi turut bahagia mendengarnya. Kalau saat itu Pak Rizki menyerah dan berhenti belajar, mungkin sekarang beliau tidak sedang berkemas ke Semarang :)

Jadi, siapa bilang orang tua berhenti belajar?
Kita yang muda-muda ini, malu dong sama Pak Rizki kalau kita males-malesan :p

PostHeaderIcon Bulan Lalu, Sayang..

Bulan Lalu, Sayang..

 

bulan lalu, Sayang..
masih ingat kah? Read the rest of this entry »

PostHeaderIcon eRepublik

Saya pernah mikir, gimana rasanya ada di suatu negara kecil, trus ikut organisasi, gabung di partai, masuk militer, de el el. Dan pada suatu hariiiii, saya dapet invite buat gabung di eRepublik. Apa sih itu?

eRepublik ini merupakan salah strategy game. Tapiii.. bukan macem DotA dkk. Di sini, setiap warga negaranya punya kekuatan untuk membuat perubahan dan memenuhi target ekonomi, politik, dan militer. Tergantung pinter-pinternya kita buat atur strategi deh.

Wups.. Saya juga ga mau spoiler banyak-banyak. Orang saya juga masih nyubi. Kalo kata adminnya sih, permainan ini awalnya membosankan. Karena kita cuma bisa kerja jadi kuli, beli makanan, ama latian. Tapi janjinya sih, kalo level kita udah tinggi kita bisa melakukan banyaaak hal seperti ikutan congress, bahkan bisa mencalonkan diri jadi presiden. Jadi sodara-sodaraaa.. Kalo berani dan ngerasa jago atur strategi, apalagi ampe jago ngatur negara, coba deh ikut gabung di sini.

PostHeaderIcon Roda Kehidupan

Yang namanya roda itu pasti berputar. Yang di atas, bisa jadi di bawah. Pun juga sebaliknya. Roda yang ada di cerita kali ini punya nama roda kehidupan.

roda kehidupan

Saat ada di atas, banyak sekali yang tak perlu repot memikirkan bagaimana rasanya saat berada di bawah. Jujur saja, kadang saya termasuk salah satu diantara orang-orang itu. Saat khilaf melanda, saat terlena oleh fasilitas-fasilitas dan kemudahan akses dimana-mana, terkadang tak sempat terlintas sedikit pun bagaimana rasanya berada di bawah. Kurang bijaksana memang. Tapi saya tidak mungkir akan kenyataan itu. Coba deh.. Saat kita ada di atas, pikirkanlah tentang mereka yang ada di bawah. Hal itu akan membuat kita merasa sangat bersyukur.

Lalu… Kalau roda itu berputar dan membawa kita ke bagian bawah? Read the rest of this entry »

PostHeaderIcon UNICEF — Pendekar Anak

Tahukah Anda?

3 dari 10 anak di Nusa Tenggara Timur masih kurang berat badan
4 dari 10 anak masih kurang tinggi badan

Sadarkah Anda?

460 bayi meninggal setiap hari
Penyebabnya adalah penyakit yang seharusnya dapat dicegah melalui imunisasi
Itu setara dengan 1 bayi meninggal setiap 3 menit

Ingin berbuat sesuatu?
JADILAH PENDEKAR ANAK

Read the rest of this entry »

PostHeaderIcon Pendekar Anak

Pendekar Anak

Maksudnya?

Pendekar yang masih anak-anak?
Anak yang jago beladiri?
Anak jagoan?
Anak kecil yang jadi pendekar?
Atau… Anaknya pendekar?

Aduh, saya makin meracau. Padahal, maksud sebenarnya dari Pendekar Anak itu adalah sebuah gerakan bagi mereka yang ingin berpartisipasi dalam usaha bersama demi kesejahteraan anak-anak Indonesia. Dengan bergabung sebagai Pendekar Anak, kita juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya Konvensi Hak-Hak Anak. Itu saja? Tidak. Ada banyak cara untuk membantu anak-anak Indonesia. Misal : memberikan donasi, memasang Ring-Back-Tone (RBT), atau bahkan dengan cara mendaftar sebagai sukarelawan untuk menggalang dana.

Gerakan yang ada di bawah UNICEF Indonesia ini merupakan wadah untuk menyampaikan tangan bantuan kita kepada anak-anak Indonesia. Sudah saatnya bergerak. Daftarkan diri kamu di sini sekarang!! Gak pake lama yaaaa… :mrgreen:

Protected by Copyscape Original Content Validator
Empunya Blog

Terima kasih sudah mampir (",)
What should I say? Twenty-something, dan narsis. Suka mengklaim diri sendiri sebagai orang yang smart. Tak pernah melewatkan kilatan kamera di tiap acara dan masih mengingat-ingat kapan pertama kalinya tertarik untuk 'menulis'. Ingin tau lebih banyak, monggo baca-baca dulu :)

Follow Me \^^/
March 2010
M T W T F S S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Tag
Paling Bawel Ajah
Yuk.Ngeblog.web.id
My BlogCatalog BlogRank