Archive for December, 2009
Cerita Penghujung Akhir Tahun #2: Ngaca!!
Hiyaaaah.. Kok ya pas rasanya postingan ini buat akhir tahun. Latar belakangnya dari kritikan dosen pembimbing saya tentang sikap saya yang keterlaluan. Pernah baca postingan saya tentang ketidaksetujuan saya dengan adanya calo? Menurut beliau, keberadaan calo tersebut justru tidak dapat disalahkan karena adanya keluarga yang harus dinafkahi. Pertanyaan pun kembali kepada saya, sudah sebenar apakah saya sampai bisa mengkritik orang lain? Sama seperti kalau Ibu saya yang bertanya, pertanyaan beliau pun berhasil membuat saya diam dan merenung
Iya. Saya memang terlalu sibuk menilai orang lain, padahal salah saya juga banyaknya amit-amit. Kemarin saat pergi ke KL saja saya meninggalkan tugas saya dan jadilah tugas tersebut keteteran. Parahnya, saya kadang tidak berpikir panjang bagaimana sikap saya dapat berimbas dan merugikan orang lain. Sudah? Yang lain banyaaak.. Nanti saya update lagi.
*to be continued…. saya telat ke kampus
Cerita Penghujung Akhir Tahun #1: Tugas Akhir Saya..
Kalau dulu di blog yang satunya saya pernah buat list tentang judul-judul Tugas Akhir saya dan teman-teman angkatan saya, sekarang saya mau buat review sedikit tentang apa yang saya kerjakan untuk Tugas Akhir saya. Singkatnya, Tugas Akhir saya ini bertujuan untuk membuat aplikasi yang dapat digunakan untuk mencari solusi dari sebuah sistem singular dari dua persamaan diferensial biasa nonlinear. Ribet? Makanya dibaca sampai habis dulu.
Sebuah persamaan diferensial biasa (PDB) nonlinear tidak dapat diselesaikan dengan cara analitik seperti PDB linear biasanya. Permasalahan menjadi semakin rumit saat dua PDB nonlinear membentuk sebuah sistem yang singular, dimana nilainya sangat besar atau tidak terdefinisi pada O(0,0,0). Sehingga, untuk mencari penyelesaiannya digunakan metode numerik.
Nah, untuk menyelesaikan permasalahan numerik tersebut digunakan pendekatan dengan reproducing kernel space. Rep. kernel space yang kita gunakan di sini adalah W2[0,1] dan W1[0,1] dimana L:W2[0,1]->W1[0,1] merupakan bounded linear operator. Yang artinya, L merupakan transformasi linear dari dua vektor space yang telah ternormalisasi dan mempunyai batasan-batasan yang sama. Dalam hal ini, melalui definisi yang ada pada ref.[1], batasan tersebut yaitu u(0)=v(0)=0.
Setelah membuktikan bahwa kedua rep. kernel space tersebut bounded, maka kita dapat menggunakan rep. kernel dari W2[0,1] untuk mencari set vektor pada space tersebut. Set vektor yang kita dapatkan kemudian dinormalisasi dengan algoritma Gram-Schmidt. Hasil dari proses ini menghasilkan set ortonormal dan koefisien ortogonal. Kedua hasil inilah yang kemudian diproses lebih lanjut untuk mendapatkan solusi sistem singular dari dua persamaan diferensial biasa.
Sudah? Masih banyak detil sebenarnya. Besok-besok saya bagi lagi. Bukan berarti saya bener. Ini juga masih belajar. CMIIW. Feel free to contact or correct me..
*further reading :
1. Lu Xueqin, Cui Minggen. 2007. Solving a singular system of two nonlinear ODEs. Appl. Math. Comp. 534-543.
KTT Perubahan Iklim Copenhagen
Saya tahu Surabaya memang kota dengan cuaca yang sangat panas. Tapi buat saya yang dari orok sudah lahir dan besar di Surabaya, cuaca di Surabaya akhir-akhir ini jaaaauh lebih panas daripada biasanya. Iklim sudah berubah rupanya. Ketidakseimbangan terjadi di mana-mana. Serba timpang tindih.
Para pemimpin negara dari berbagai belahan dunia pun melaksanakan suatu konferensi tingkat tinggi tentang perubahan iklim ini di Copenhagen, Denmark. Harapannya, muncul suatu resolusi bersama untuk ‘menyelamatkan bumi’. Bayangkan saja, jika pemanasan global terus menerus terjadi dan jumlahnya meningkat, dapat dipastikan es di kutub akan mencair. Konsekuensinya? Jelas saja negara-negara kepulauan di sekitar kutup akan tenggelam. Indonesia? Mungkin saja.. Entah berapa tahun lagi.
Baru-baru ini, pemimpin dunia dari berbagai belahan dunia membicarakan isu global perubahan iklim ini dalam sebuah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim di Copenhagen, Denmark. Menurut BBC News, ada beberapa hal yang berhasil diubah oleh Copenhagen : apa saja sih hasilnya?
Kado Ulang Tahun
10 hari sebelum ulang tahun sahabat saya (01/01)
33 hari sebelum ulang tahun ayah saya (23/01)
39 hari sebelum ulang tahun adik saya (29/01)
Dan saya butuh bantuan sodara-sodara semua. Sebagai ucapan terima kasih, saya telah menyiapkan 7 buku karya penulis-penulis favorit saya :
- Hell Yeah (Fira Basuki)
- Perahu Kertas (Dewi Lestari)
- Traveler’s Tale (Ninit Yunita ++)
- The Winner Stands Alone (Paulo Coelho)
- Gege Mencari Cinta (Aditya Mulya)
- When Silly Met Venus (Blogger kondang : Mbok Venus ama Mbak Silly)
- Negeri van Oranje
Tertarik? Caranya gampang..
- Pikirkan ide tentang apa yang dapat saya lakukan/berikan di hari ulang tahun ketiga orang penting tersebut.
- Tuliskan ide sodara-sodara sebagai komentar di artikel ini.
- FOLLOW MY BLOG!! Karena 2 pemenang akan saya pilih asal-asalan dari list FOLLOWERS saya.
- Jadi TOP KOMENTATOR. 2 orang teratas yang ada di list top komentator pada tanggal 29/01 secara otomatis berhak atas buku yang ada.
- Kemukakan semua ide-ide yang terpikir. 3 orang pemenang akan saya pilih dari ide-ide yang ada.
- Pemenang akan saya hubungi melalui email untuk buku yang diinginkan pada tanggal 30/01.
- List resmi pemenang akan diumumkan di blog ini pada tanggal 31/01.
Jadi bagaimana dengan ide sodara??
Pre-Birthday
Wawawaw.. Sudah bulan Desember ternyata. Artinya, umur blog ini sudah 1 bulan. Selain itu, desember berarti 1 bulan sebelum 2 orang penting di hidup saya -ayah dan adik- berulang tahun.
Karena kemarin saya baru dapat buku gratis berkat ‘nampang’ di Karnaval Blog punya oom Guskar, saya jadi terpikir untuk berbagi 7 buku untuk 7 orang yang beruntung. Detailsnya? Tunggu pengumuman selanjutnya dari saya
Karnaval Blog dan Microsoft Bloggership 2010
Pagi ini saya terkejut. Saya seriuuus. Penyebabnya karena dapat email dari Oom Guskar yang memberitahukan bahwa tulisan saya terpilih dalam karnaval blog yang tayang tanggal 15/12. Tulisan saya kemarin, entah bagaimana, lolos dipamerkan di blog Oom Guskar. Padahal menurut saya, ratusan tulisan lain yang masuk juga sangat inspiratif. Tulisan saya pun akhirnya ‘nampang’ di sini. Sebagai gantinya, saya berhak memilih satu buku yang telah disediakan. Horeeee
Ngomong-ngomong tentang tulis-menulis, saya baru saja menulis untuk lomba yang lain. Kali ini, tulisan itu saya ‘pajang’ di blog saya yang lain. Tulisan tersebut saya buat untuk Microsoft Bloggership 2010. Sebuah ajang kompetisi dan penghargaan bagi narablog muda Indonesia. Program Microsoft Bloggership ini akan berlangsung dalam kurun waktu 6 bulan (Januari-Juni 2010). Narablog muda penerima BLOGGERSHIP ini kemudian akan mendapatkan kesempatan untuk menulis blog dalam perjalanan bersama Microsoft Indonesia ke beberapa provinsi di Indonesia, seraya dihadapkan dengan isu-isu dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan edukasi dan pemanfaatan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan kreatif. Jadi, saudara-saudara.. mampir ke tulisan saya, beri feedback dan dukungan untuk saya yaa. Matur nuwun :)
Btw, nama belakang Oom Guskar ternyata seperti nama Ayah saya
MICROSOFT BLOGGERSHIP 2010 : Jelas Berbeda di Desa
Foto-foto ini diambil saat saya dan teman-teman kuliah di T.Informatika ITS Surabaya mengadakan satu kegiatan yang diberi nama ‘TC Goes To Village‘. Pencarian data ‘buta huruf terbanyak’ di Badan Pusat Statistik (BPS) mengantarkan kami ke suatu desa di Pasuruan, Jawa Timur. Asumsi kami, desa dengan tingkat buta huruf terbanyak merupakan desa yang memiliki tingkat pendidikan rendah.
Miris. Iya. Miris. Di saat kami -yang notabene mahasiswa IT- sudah sangat akrab dengan internet, messenger, virtual class, SIM Akademik online, forum diskusi online dan lain-lain, mereka di sana justru belum pernah ‘berkenalan’ dengan komputer dan laptop. Keadaan jelas berbeda di desa tersebut.
Mayoritas penduduk di desa tersebut mendapatkan sumber penghasilan dari aktifitas dagang. Kegiatan kami di sana akan berbagi pengetahuan tentang pengenalan dasar komputer, dan aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan di sekolah untuk menunjang proses belajar-mengajar seperti aplikasi-aplikasi MS Office. Di luar dugaan, berita tersebut ternyata telah didengar oleh penduduk desa. Saat kami datang saja, penduduk-penduduk yang menemui kami tampak sangat antusias bertanya-tanya tentang materi yang akan kami ajarkan esok hari. Kami mengambil lokasi pengajaran di salah satu sekolah di desa tersebut. Target peserta yang akan mengikuti acara ini adalah murid-murid MTs dari kelas 7 s.d. kelas 9. Selain itu pula, guru dan perangkat desa juga mengikuti acara ini.
Saya, teman-teman saya, blogger, dan bahkan Anda… saya yakin dengan gampangnya mengakses internet, blogwalking bahkan dari teknologi mobile. Akun FS saja pasti sudah dimiliki sejak bertahun lalu. Buat saya juga sudah bukan hal yang aneh jika kami -mahasiswa T.Informatika ITS Surabaya- berinteraksi dengan dosen tentang mata kuliah melalui forum, atau bahkan mengetahui info-info dari FB dan Twitter. Juga tak asing lagi saat kami harus melakukan conference untuk suatu mata kuliah dan ujian secara online. Tapi hal tersebut tidak berlaku di sana. Jangankan mobile atau social network, untuk menyalakan komputer saja, mereka masih belum bisa. Eits, saya serius dan tidak mengada-ada. Karena nyatanya, cita-cita pemerataan pendidikan dan teknologi informasi di negara kita masih belum menyentuh mereka yang berada di desa kecil.
Para peserta sangat antusias mengikuti tiap sesinya dengan penuh perhatian seolah tak ingin melewatkan tiap butir pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Duduk di lantai tanpa alas pun tidak masalah. Tidak sebanding dengan ilmu yang akan mereka terima.
Tak hanya pengenalan komputer, kami pun memberikan materi aplikasi perkantoran dasar dari Microsoft yaitu MS Word dan MS Powerpoint. Di ruangan berbeda, materi tersebut tidak diberikan dengan menggunakan komputer, melainkan laptop/notebook. Peserta yang terdiri dari murid-murid SMP tersebut rupanya memicu rasa ketertarikan bocah SD di desa tersebut. Mereka ingin sekali merasakan pengalaman mengoperasikan komputer/laptop juga membuat presentasi. Tak tega melihat semangat dan rasa penasaran mereka, kami pun mengijinkan mereka masuk dan bergabung bersama kakak-kakak mereka yang sudah duduk di bangku SMP dengan catatan bersedia untuk rapi dan tidak gaduh.
Mengenal notebook pada awalnya membuat mereka di sana ragu. Namun, perlahan mereka menikmati materi dan dengan asiknya mencoba membuat presentasi menggunakan aplikasi MS Powerpoint. Dimulai dengan membuat desain tiap slide yang ada, kemudian menambahkan animasi-animasi, dan menjalankan presentasi yang telah dibuat. Senyum dan tawa riang menyiratkan betapa menyenangkannya hal-hal baru tentang komputer dan teknologi informasi untuk mereka. Belajar secara sederhana dengan presentasi powerpoint saja sudah memberikan suasana yang jauh berbeda. Lebih hidup, dinamis, dan bersemangat.
Tiga hari di sana sebenarnya belum cukup untuk membagikan lebih banyak ilmu. Sebelum pulang, kami memberikan beberapa perangkat komputer yang dapat digunakan untuk menunjang proses belajar-mengajar di sana. Keberadaan kami di sana hanyalah awal, sebuah investasi kecil yang jika dipupuk akan berbunga indah. Siapa tahu saja dua puluh lima tahun ke depan, justru anak-anak desa yang awalnya ‘gaptek’ ini lah yang akan menjadi Menkominfo Indonesia
Sekecil apa pun, sesederhana apa pun, bentuk kepedulian kita untuk menyampaikan kemajuan teknologi informasi kepada masyarakat dapat menciptakan kualitas pendidikan yang lebih baik. Terlebih lagi, jika kita bekerja sama menyebarkan pengetahuan sampai ke pelosok desa, kita bisa membantu pemerintah untuk perataan pendidikan dan cita-cita bangsa bagian ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ seperti tercantum pada alinea empat pembukaan UUD 1945 pun dapat tercapai. Salah satu bentuk yang dapat dilakukan yaitu dengan program MICROSOFT BLOGGERSHIP yang memberikan kesempatan kepada narablog muda untuk berkontribusi di masyarakat dalam bidang pendidikan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan kreatif. Pendidikan merupakan tanggung jawab kita semua… Bukan begitu, saudara-saudara?
Kalau Nanti Jadi Ibu
“Kamu sekarang bisa ketawa, coba kalau nanti sudah jadi Ibu.”
Saya seketika berhenti tertawa. Ibu saya iniii… Paling tahu bagaimana cara memberhentikan tawa saya dan membuat saya berpikir. Saya serius. Seketika itu saya memikirkan kata-kata Ibu.
Kalau nanti jadi Ibu, apa iya saya jadi seperti Ibu yang….. Read the rest of this entry »
Siapa Bilang Orang Tua Berhenti Belajar?
Saat istirahat makan siang di kantor, saya mendapat telfon dari sebuah nomor tak dikenal. Baru setelah berbincang sebentar, saya jadi ingat suara di seberang telfon itu. Menyapa saya dengan, ‘Mbak Sari, masih ingat saya? Saya Rizki, Mbak.. Mahasiswa PIKTI.’
Ooooh.. Saya hanya menjawab dengan ‘O’ panjang sebelum perbincangan singkat pun mengalir. Saya dan Pak Rizki berkenalan tahun lalu. Saat saya menjadi asisten dosen mata kuliah Software Perkantoran di sebuah lembaga pendidikan profesi. Berbeda dengan hari biasa, Senin-Jumat, hari Sabtu merupakan hari untuk kelas ekskutif. Awal bergabung di sana sebenarnya cukup membuat saya syok. Karena bukan anak-anak seusia saya yang ada di sana, melainkan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sepertinya berusia sepuluh tahun lebih tua daripada saya.
Saya pun sadar, dan membenarkan kalimat, ‘Tak ada kata terlambat untuk belajar.’ Pun dalam prosesnya, semakin banyak tantangan yang harus dihadapi. Para tenaga ajar yang terlibat di dalamnya pun harus memiliki tingkat ketelatenan dan kesabaran yang ekstra. Misalnya saja untuk mata kuliah tersebut (Software Perkantoran), kesalahan dan pertanyaan yang diungkapkan oleh peserta ajar sangat sederhana. Kurang tanda titik, lupa menyimpan dokumen yang telah dibuat, atau lamanya waktu untuk dapat menyelesaikan satu dokumen tugas. Namun, di situ lah para pengajar harus telaten untuk memberikan pengajaran.
Saya masih ingat dulu, setelah break istirahat siang kelas eksekutif dan berbincang santai dengan para murid di sana, hampir semua bapak dan ibu yang ada mengeluh karena pelajaran yang diberikan sangat susah. Saya pikir, mereka akan menyerah. Namun, nyatanya.. Semangat untuk tak henti belajar membuat mereka datang kembali di minggu depan.
Back to the topic. Telfon Pak Rizki tadi siang hanya ingin sekedar menyapa, memberitahukan nomor barunya, sekaligus pamit. Pak Rizki yang menurut cerita beliau telah mahir menggunakan software perkantoran akhirnya naik pangkat, dan dipindahtugaskan ke Semarang. Saya jadi turut bahagia mendengarnya. Kalau saat itu Pak Rizki menyerah dan berhenti belajar, mungkin sekarang beliau tidak sedang berkemas ke Semarang
Jadi, siapa bilang orang tua berhenti belajar?
Kita yang muda-muda ini, malu dong sama Pak Rizki kalau kita males-malesan :p








Terima kasih sudah mampir (",)

